4 Januari 2024
Mengajar Sembari Belajar
“Jalan terbaik menaati Allah adalah dengan belajar dan mengajar. Sebab, belajar merupakan sarana beramal dan penghambaan terbaik kepada Allah. Sedangkan mengajar merupakan sarana mengajak manusia mengimani Allah, menolong agama-Nya dan perwujudan misi kenabian.”
Sebelumnya, perkenalkan nama ana Hikmah. Ana adalah seorang guru di Mafatih Islamic School, Kalibata. Ana baru memulai profesi sebagai guru pada tahun 2023. Dan alhamdulillah, ana sudah bergabung menjadi guru di Mafatih selama satu semester.
Pelajaran yang ana ampu saat ini adalah PAI, Bahasa Arab kelas 4, dan 5. Selain itu, ana juga diamanahi untuk mengajarkan ekskul Arabic Song di kelas 4, Arabic Strory Telling di kelas 5, dan Arabic Speech di kelas 6.
Selain sebagai seorang guru, ana juga adalah seorang mahasiswi semester 4 di salah satu kampus swasta di Jakarta. Mata kuliah yang ana pelajari di kampus adalah Bahasa Arab dengan segala aspek kebahasaannya, yang meliputi: Istima’, Muhadatsah, Qiroah, Ta’bir wa Kitabah, Nahwu, dan juga Shorof.
Menggabungkan aktivitas belajar dan mengajar di satu waktu sebenarnya bukanlah hal yang mudah. Namun, ana rasa dalam penggabungan ini ada tantangan tersendiri bagi seseorang yang menjalaninya. Karena saat itu, kemampuannya dalam manajemen waktu akan lebih terasah, keilmuannya seputar pendidikan juga akan bertambah, dan pengalaman masa mudanya juga akan berbeda dengan beberapa teman mahasiswa lainnya. Di saat yang sama, ia harus mampu memprioritaskan keduanya. Bagaimana proses belajarnya tetap maksimal tanpa mengurangi kualitas dirinya sebagai seorang guru. Meskipun masih sering dijumpai kekurangan pada dirinya.
Salah satu hal yang menarik yang akan kita sadari ketika kita mengajar adalah kita belajar banyak hal baru. Seperti apa yang pernah ana alami. Saat itu, materi pelajaran Bahasa Arab di kelas 4 sudah selesai. Dan pada setiap akhir unit, selalu ana temukan mini games pada buku ajar.
Mini games sebelumnya hanya fokus pada pengulangan mufradat. Ana merasakan, betapa ana bosan ketika ana sering mengulang mufradat dengan cara yang sama berkali-kali. Namun, ana rasa mini games kali ini sangat berbeda dengan beberapa games di unit sebelumnya. Para siswa juga sangat antusias, karena ini adalah pengalaman pertama untuk mereka. Belajar Bahasa Arab dengan eksperimen.
Kali ini, siswa diminta untuk menyiapkan balon, kertas, penggaris, dan pensil. Langkah pertama yang harus dilakukan oleh siswa adalah menarik nafas, kemudian meniup balon dengan seluruh nafas yang ada di paru-paru. Maka besar balon yang ditiup masing-masing siswa, sama dengan besar ukuran paru-paru mereka. Dan semua instruksi disampaikan dengan Bahasa Arab tentunya. Sangat menarik bukan?
Dari sini ana belajar, bahwa mengajar Bahasa Arab bukan hanya tentang menghafal kosakata dan mempraktekkan percakapan. Namun, bisa juga dikombinasikan dengan eksperimen, atau kegiatan menarik lainnya dengan memasukkan unsur Bahasa Arab di dalamnya.
21 Januari 2024
Gagal Bukan Berarti Berhenti
“طرق النجاح ليست مفروشة بالورود”
“Jalan menuju kesuksesan tidak dihiasi dengan bunga mawar.”
Pada raker semester genap lalu, ibu direktur sekolah kami mengumumkan beberapa nilai kualitas para guru yang telah diobservasi oleh kepala sekolah pada semester ganjil. Saat itu kualitas ana ada di angka 61 dari 100. Cukup menyedihkan sebenarnya, karena bukan itu nilai yang ana harapkan. Namun, ana sadar bahwa ana harus belajar dari kesalahan ana sendiri. Bukan justru berlarut dalam kesedihan, kemudian berhenti.
Memang tak ada orang yang senang ketika gagal. Namun, seorang pembelajar sejati pasti akan terus belajar, belajar, dan belajar, tanpa peduli sebanyak apapun kegagalan yang ia alami. Percayalah, mungkin dibalik kegagalan ini, Allah mau kita lebih giat dalam berusaha, lebih banyak berdoa, dan lebih banyak bersabar. Hingga suatu saat Allah menghadiahkan kita sebuah kesuksesan yang lebih baik daripada kesuksesan yang kita raih tanpa kegagalan. Tak ada yang tahu rencana Allah dibalik semua ketetapan-Nya. Dan kini saatnya ana mencari jawaban dari “what must I do.”
Tidak beberapa lama setelah ana memikirkan apa yang harus ana lakukan, ibu direktur kami menyarankan agar ana sitting ketika guru lain mengajar. Dan ternyata inilah kemauan Allah dibalik kegagalan yang ana lakukan. Allah memberikan kesempatan kepada ana untuk belajar. Andai saja kali itu ana mendapat nilai 90 misalnya, dapat dipastikan ana tidak mendapatkan pelajaran berharga ketika sitting, dan tulisan ini pun tidak akan pernah ada.
