Kurikulum merupakan jiwa dari sebuah proses pendidikan. Sebagai sebuah lembaga pendidikan mandiri, Mafatih Kalibata menawarkan sebuah kurikulum yang berbeda dari kurikulum nasional. Para ahli pendidikan telah banyak mengkritik kurikulum nasional, antara lain menyebabkan anak stres, anak hanya berorientasi pada nilai akademis di atas kertas, terjadi banyak tawuran di antara pelajar, akhlak rendah, tidak ada kepekaan sosial, tidak ada kesadaran hukum, tidak memiliki life skills, tidak siap menghadapi kehidupan nyata, serta pengajaran agama yang teoritas sehingga banyak lulusan sekolah berkurikulum nasional tidak dapat mengaplikasikan pengetahuan agamanya dalam kehidupan sehari-hari.

Mafatih Islamic School Kalibata hadir untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut. Kurikulum Mafatih mencakup 10 target utama pendidikan pada tingkat sekolah dasar, yaitu:

1. Pendidikan Akhlak

Pendidikan akhlak diberikan bukan hanya sebagai teori untuk menjawab soal-soal normatif, melainkan dilakukan secara aplikatif. Beberapa program pendidikan akhlak Mafatih antara lain:

  • Melalui keteladanan para guru dan staf: Tim Manajemen Mafatih memiliki standar tinggi dalam pemilihan para guru dan staf. Penyaringan tersebut meliputi: pola pikir, pola sikap, dan pola jiwa islami, perilaku, kecerdasan dan semangat untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, serta menunjukkan kesabaran dan kasih sayang kepada anak.
  • Pembiasaan: Setiap hari anak-anak dibiasakan beraktivitas di sekolah dengan adab yang baik, seperti menggunakan tangan kanan saat makan dan menyerahkan barang ke orang lain, mengembalikan buku ke tempatnya, mengantri, meminta ijin, dsb.
  • Melalui kisah: Mafatih memiliki program khusus yaitu Story Time dan Library Time. Anak-anak mendengarkan/membaca kisah-kisah yang mengajarkan sikap dan perilaku mulia. Selain program Story Time, kisah-kisah positif diberikan dalam pelajaran bahasa. Kisah-kisah negatif, seperti Kancil Mencuri Ketimun, disaring, dibuang atau dimodifikasi.
  • Melalui soal & aktivitas pembelajaran: Pendidikan akhlak juga disertakan dalam aktivitas pembelajaran dan pembuatan soal-soal ujian pada semua mata pelajaran. Contoh soal: Antum diminta Ibu belanja ke warung untuk membeli gula seharga Rp 12.000, garam Rp 1.000 dan bumbu dapur Rp 1.000. Uang antum Rp 20.000 dan mendapatkan kembalian Rp 7.000. Hitung apakah pengembalian itu sudah benar? Apa yang harus antum lakukan?
  • Melalui buku-buku pelajaran: Anak-anak diperkenalkan tafsir surat-surat pendek dengan penekanan pada aplikasi kehidupan, terutama pendidikan akhlak, buku PAI berorientasi adab, serta buku Pendidikan Kewarganegaraan yang menitikberatkan pada adab.

2. Memperkuat Hafalan & Memperbaiki Shalat

Hafalan al-Qur’an sangat berfaedah bagi umat Islam. Anak-anak memiliki kemampuan menyerap hafalan dengan cepat, namun metode dan strategi harus tepat agar tidak membuat anak trauma. Tujuan utama dari hafalan al-Qur’an adalah untuk mencetak lisan yang terbiasa melantunkan ayat-ayat mulia, diiringi dengan hati riang penuh kecintaan. Kegiatan di Mafatih yang disiapkan untuk mendukung target ini antara lain:

  • Target hafalan al-Qur’an di Mafatih Islamic School Kalibata adalah 3 juz secara mutqin (tidak asal-asalan), dengan tetap memperhatikan kemampuan masing-masing. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih akan difasilitasi untuk menambah hafalan.
  • Muraja’ah harian & zikir jama’i.
  • Bimbingan shalat wajib dan sunnah berjama’ah.
  • Setorkan hafalan & sertifikasi Alqur’an.
  • Muraja’ah berjama’ah dilakukan setiap pagi untuk mengawali proses pendidikan di Mafatih. Hal ini memiliki banyak manfaat antara lain: menjadikan al-Qur’an sebagai pijakan kehidupan, menguatkan hafalan, dan menambah rasa percaya diri untuk membaca al-Qur’an secara lantang.
  • Komunikasi walas dan orang tua melalui agenda harian.

3. Outstanding Leadership

“Setiap diri adalah pemimpin dan masing-masing akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya” [al-Hadits] merupakan sumber inspirasi bagi Mafatih dalam membina anak didik. Kepemimpinan harus diiringi dengan tanggung jawab. Setiap muslim wajib siap menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, namun juga siap menjadi makmum yang bertanggung jawab. Baik pemimpin maupun makmum harus memiliki kualitas unik yang menjadi ciri kelebihannya. Beberapa program untuk mengasah jiwa kepemimpinan ini adalah: 

  • Pemberian tanggung jawab harian sesuai usia anak, seperti menjadi ketua kelas, emir harian, asisten guru, piket harian, serta pemberian konsekuensi apabila melakukan pelanggaran. 
  • Pemberian motivasi untuk melaksanaan ibadah sunnah 
  • Mengikuti lomba-lomba 
  • Bergantian menjadi imam salat dan muazin. 
  • Belajar tampil di panggung/presentasi di tempat umum 
  • Belajar berbaris. 
  • Pemilihan ketua kelas terbaik dan murid teladan.

4. Kemampuan Literasi & Penguasaan Bahasa Asing

Pendidikan harus dapat menyesuaikan dengan kebutuhan jaman. Di era globalisasi ini, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa ibu dan bahasa asing sangatlah penting. Berbagai sumber penelitian menyebutkan bahwa anak-anak di bawah usia 12 tahun memiliki kemampuan untuk menguasai banyak bahasa laksana bahasa ibu. Pada beberapa suku di Indonesia, kemampuan multibahasa sudah terasah secara effortless (tanpa usaha berat). Anak-anak yang lahir dan besar di Solo, misalnya, mampu menguasai bahasa Krama Inggil, Krama Madya, Jawa Ngoko, serta bahasa Indonesia secara bersamaan, lantaran semua itu mereka dengar dan gunakan sehari-hari. Mafatih Kalibata menjadikan pembiasaan bahasa asing sebagai salah satu program hariannya. Selain itu, anak-anak dibimbing untuk berkomunikasi secara santun. Program-program ini dilaksanakan melalui:

  • Story Time dalam bahasa Inggris 
  • Penggunaan buku ajar dari Singapura dan Saudi Arabia. 
  • English dan Arabic Club 
  • Membaca cerita 
  • Menulis laporan di buku agenda 
  • Debat (bagi kelas 5 dan 6) 
  • Menulis cerita dan membacakannya 
  • Bermain peran 
  • Menulis buku harian (diary)
  • Membaca/membuat puisi
  • Belajar pidato/kultum 
  • Menggunakan EYD sebagai pedoman penulisan

5. Kemandirian

Salah satu kelemahan anak jaman sekarang terletak pada kurangnya kemandirian. Menurut Islam, setiap anak yang mencapai usia baligh telah terkena tanggung jawab hukum. Usia SD merupakan waktu yang tepat untuk menyiapkan anak-anak menghadapi usia baligh, dalam arti siap menjadi insan yang bertanggung jawab atas kehidupannya.
Program Kemandirian di Mafatih meliputi:

  • Nasehat harian yang diperkuat dengan ayat/hadits 
  • Piket kelas & kerja bakti
  • Makan sendiri, tidak mengompol, BAK dan BAB secara mandiri, dll 
  • Mengerjakan PR secara mandiri 
  • Belajar menggunakan transportasi umum 
  • Belajar marketing dan berdagang (bazar) 
  • Belajar memasak dan membuat kreativitas seni (Ekspresi)

6. Kepedulian terhadap Sesama & Lingkungan

Banyak pesan Nabi Muhammad SAW yang mengisyaratkan wajibnya peduli terhadap sesama dan lingkungan bagi setiap muslim. Untuk mengasah itu, kami merencanakan program:

  • Pelatihan dokter cilik/P3K 
  • Mengadakan baksos & fundraising 
  • Menggunakan barang bekas/daur ulang untuk meminimalisir sampah yang sulit terurai 
  • Mengundang narasumber tentang pengelolaan sampah 
  • Nasehat untuk tidak mengganggu teman, merusak tanaman, mencoret meja/dinding, serta nasehat untuk menolong teman dan menjaga lingkungan

7. Berpikir Kritis (Critical Thinking)


Salah satu kelemahan kaum muslimin hari ini adalah kurangnya kemampuan untuk berpikir kritis. Alhasil, kaum muslimin mudah termakan berita bohong, mudah ditipu, dipermainkan, dan dimanfaatkan untuk kepentingan pihak-pihak tertentu. Beberapa program Mafatih untuk melatih anak berpikir kritis adalah:

  • Mendiskusikan isi novel dan cerpen yang dibaca
  • Berdiskusi tentang film atau video yang ditonton di sekolah 
  • Belajar tentang memilah berita yang benar dan berita yang palsu

8. Kemampuan Menyelesaikan Masalah (Problem Solving)

Kehidupan nyata tidak selalu sama dengan teori. Untuk itu, anak-anak harus dilatih berpikir kreatif dalam menyelesaikan masalah. Tugas orang tua dan guru membimbing dan memberikan pertimbangan, namun anak-anak harus diberi kepercayaan untuk belajar menyelesaikan masalah. Latihan problem solving diberikan:

  • Melalui soal & pembelajaran di kelas
  • Belajar memecahkan teka-teki
  • Belajar manajemen konflik, yakni bagaimana menyelesaikan konflik dengan teman dan bagaimana menguasai diri ketika marah/kecewa
  • Belajar mencari ide
  • Sosial eksperimen

9. Tumbuh Kembang secara Seimbang

Anak-anak harus dapat tumbuh berkembang secara seimbang, dari sisi spiritual (SQ), kejiwaan (EQ), kecerdasan otak (IQ) serta kekuatan fisik (PQ). Selain program-program lain yang berkonsentrasi pada SQ, EQ, dan IQ, Mafatih juga memperhatikan perkembangan fisik anak, melalui:

  • Menyediakan catering dengan menu sehat seimbang
  • Belajar duduk dan berdiri dengan postur yang benar
  • Mengingatkan anak-anak kedekatan minimal saat membaca/menonton TV
  • Latihan bela diri dan memanah
  • Menyediakan peralatan bermain fisik, seperti bola, monkey bar, dsb.
  • Outdoor class, yang seringkali diiringi kegiatan fisik seperti berjalan kaki dan aktivitas fisik lainnya

10. Kemampuan Berteknologi secara Baik

Teknologi merupakan alat dengan segudang manfaat sekaligus masalah. Anak-anak harus dilatih memanfaatkan teknologi untuk kebaikan (mencari rido Allah SWT). Untuk itu, beberapa langkah yang harus dipersiapkan adalah:

  • Meminta orang tua untuk membatasi penggunaan gawai untuk bermain games 
  • Melatih anak-anak mengoperasikan Microsoft Office untuk menulis dan presentasi. 
  • Melatih anak-anak menggunakan peta online untuk mengetahui posisi/lokasi dan mencari jalan pulang/menuju tempat yang dituju 
  • Mengenalkan manfaat dan bahaya media sosial, serta bagaimana menggunakannya secara positif

Untuk membagikan informasi ini, silakan klik: